Kompilasipendidikan's Blog

Manusia berkualitas akan lahir dari rahim pendidikan yang berkualitas pula


Leave a comment

Orangtua adalah Teladan

Orangtua adalah Teladan

Bagi seorang anak, orangtua menjadi sandaran utama dalam kehidupannya. Orangtua dalam hal ini ayah dan bunda adalah tokoh utama bagi kehidupan seorang anak. Orang tua merupakan sosok yang pertama kali dikenalnya, didengar suaranya, dirasakan sentuhan dan belaian serta dekapan hangatnya sangat dirindukan seorang anak. Orangtua menjadi begitu penting bagi kehidupan seorang anak manusia sejak kehadirannya dimuka bumi. Itulah pendidikan pertama dan utama dalam kehidupan seorang anak manusia yang akan berdampak besar dalam setiap tahapan dari episode-episode kehidupan. Dan kita semua pastilah akan mengalami hal tersebut, apakah kita merasa puas kepadanya atau bahkan mungkin kecewa karenanya.

Setiap manusia yang hidup jika berumur panjang pastilah akan menjadi bahkan sangat merindukan menjadi orangtua, hal ini sudah menjadi taqdir dari sang Pencipta alam raya Allah SWT. Sudah menjadi taqdirnya bagi setiap yang hidup akan melestarikannya dengan kehadiran generasinya yang akan dilampauinnya melalui jalur pernikahan yang legal. Mengapa saya katakana jalur yang legal karena banyak sekali kejadian lahirnya generasi dari jalur yang illegal yang dalam Bahasa agamanya disebut zina. Manusia merupakan makhluk yang mulia, kemuliannya karena manusia beragama dan bertuhan serta memiliki akal yang berfungsi untuk mengenal, mengetahui dan mengembangkan kehidupan.

Perkembangan psikologi seorang anak sangat dipengaruhi oleh kedua orangtuanya sebagai sebuah lingkungan yang pertama dan utama, maka peran orangtua terhadap perkembangan jasmani dan ruhaninya amatlah penting dan sulit untuk tergantikan. Kondisi kejiwaan yang cerdas dari orang tua akan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Karena orangtua adalah teladan bagi keturunannya. Karena orangtua adalah teladan maka, jiwa keteladanan dan perilaku yang memberikan teladan menjadi sangat dibutuhkan bagi perkembangan generasi bangsa yang lebih berkualitas.

Mari kita gerakan orang tua teladan untuk Indonesia

 

 


Leave a comment

Pendidikan Character Lebih Efektif Melalui Teladan

Pendidikan Character Lebih Efektif  Melalui Teladan

Pendidikan character kembali di gemakan karena kekhawatiran semakin terdegradasinya akhlak anak bangsa. Konon kabarnya pada zaman dahulu pernah ada pendidikan character  dengan nama budi pekerti, yang kemudian melebur dalam bentuk PMP, pendidikan moral pancasila yang setelah reformasi juga kembali berubah nama. Ada yang mungkin kita kurang pahami, bahwa character itu lahir dari kebiasaan yang dibiasakan melalui pembiasaan, hal mana seperti yang didefinsisikan dalam http://www.merriam-webster.com/dictionary/character, character adalah char·ac·ter  noun \ˈker-ik-tər, ˈka-rik-\: the way someone thinks, feels, and behaves,  someone’s personality, a set of qualities that are shared by many people in a group, country, etc. a set of qualities that make a place or thing different from other places or things.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas character itu berkait dengan cara seseorang berfikir, merasa dan berperilaku atau berkait dengan kepribadian seseorang. Hal tersebut di pengaruhi oleh kebiasaan kultur di suatu tempat atau daerah tersebut hal inilah yang membuat cara berfikir dan bertindak seseorang berbeda disatu tempat dengan tempat yang lain. Untuk Negara kita Indonesia pengaruh agama dan budaya mewarnai character seseorang, namun yang sangat disayangkan dalam realitasnya, nilai-nilai agama kurang mampu mempengaruhi pola fikir seseorang.

Bisa kita lihat masalah bangsa yang cukup akut, korupsi. Dalam agama jelas perilaku korup itu dibenci, namun kebiasaan yang berlaku dimasyarakat berkait dengan hilangnya nilai-nilai keikhlasan dan kewajiban kerja menjadi luntur karena kebiasaan memberi yang salah kaprah. Misalnya dalam hal pengurusan sesuatu.  Sungguh sangat disayangkan, kebiasaan memberi yang salah kaprah ini  terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia. Misalnya dalam masalah sertifikasi guru, untuk mendapatkan haknya, beberapa guru rela memberi pegawai diknas atau pegawai diknas memotong hak guru dan guru merelakannya biar uang itu cair, jika tidak memberi ada kekhawatiran akan dipersulit kelanjutannya.

Banyak perilaku korup yang seharusnya haram melintasi wilayah agama (depag) dan pendidikan (depdiknas), tapi kenyataannya dua di dua departeman ini aroma korupsi begitu terasa dinikmati, dan hal ini tentu saja sangat berbahaya untuk masa depan sebuah bangsa jika dibiarkan.

Kesadaran para guru dan penyelenggara pendidikan untuk membiasakan perilaku anti korupsi misalnya atau pembangunan character yang baik dengan contoh hidup, real life, role model dari mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan. Kerja sama yang harmonis antara lembaga pendidikan, guru, orang tua dan lingkungan harus terjadi dan saling mendukung, berjalan beriring. Sebab bisa dikatakan siklus hidup seorang anak manusia 50 % di rumah, 30% lingkungan masyarakat dan 20 % di sekolah. Sulit dibayangkan perubahan yang sangat luar biasa akan terjadi jika sekolah, rumah dan lingkungan bisa berkolaborasi mendidik character anak bangsa. Karena character hanya akan tumbuh subur dengan pembiasaan dan contoh teladan.


Leave a comment

Menjadi Guru; Mendidik Diri Sendiri

Menjadi Guru; Mendidik Diri Sendiri

Guru tidak hanya sekedar sebagai pengajar, sosok pentansfer  pengetahuan  atau ilmu kepada siswa, namun ia harus menjadi fasilitator pengembangan diri siswa dalam belajar. Pengertian guru yang dipahami sebagai  salah satu sumber dalam belajar di abad 21 ini sudah usang. Selain sebagai fasilitator, motivator, guru harus menunjukan diri sebagai sosok yang bisa dicontoh perilakunya, digugu dan ditiru atau menjadi role model bagi siswanya.

Menjadi guru sebagai sosok pendidik, hendaknya, kita juga bisa mendidik sendiri. Belajar dari perilaku yang ditampakan para siswa dalam proses belajar di kelas atau dalam mensosialisaikan program sekolah. Salah satu contoh misalnya, ketika lembaga pendidikan melarang para siswa merokok, maka idealnya para guru dan staf sekolah yang lain memberi contoh dengan tidak merokok. Atau ketika seorang siswa memiliki perilaku yang membawa masalah dalam belajar, kita bisa mengetahui mengapa siswa tersebut berperilaku demikian?

Kita bisa belajar mengapa siswa tersebut berperilaku demikian, kita mencari tahu hal yang melatari perilakunya tersebut. Saat kita mampu menemukan akar masalah, hal tersebut bisa menjadi bahan belajar buat diri kita. Siswa dan guru disekolah itu sama, yang membedakan hanya tahun kelahiran dan guru lebih dahulu tahu dan belajar, namun disisi lain bisa saja seorang murid yang memiliki keahlian yang lebih hebat dari kita sebagai gurunya. Bukan tidak mungkin.

Dari sisi kita sebagai guru kita bisa belajar, mendidik diri sendiri untuk selalu mengupdate diri dengan berbagai skill dan pengetahuan atau informasi. Sehingga kita mampu mengkoneksi diri dengan siswa yang masa kini hidup dalam sisi dunia yang lebih canggih dalam segala sisi. Alangkah sayangnya ketika kita sebagai guru tidak mampu mengupdate diri sesuai dengan perkembangan zaman.

Menjadi guru berarti kita harus siap menjadi sosok yang tidak hanya mendidik orang lain namun mampu mendidik diri sendiri. Guru yang tidak mampu mendidik dirinya sendiri dapat diumpamakan seperti tukang bangunan, bisa membuat gedung yang mewah dan indah namun tidak menempati/memiliki rumah tersebut. Semoga kita bisa menjadi pendidik yang mampu mendidik diri sendiri.


Leave a comment

Bekasi di Bully; Tamparan Buat Pemkot dan Pemkab

Bekasi di Bully; Tamparan Buat Pemkot dan Pemkab

Mungkin ini lebih serius dan bukan candaan, candaan yang dilemparkan di media social menunjukan keprihatinan dan menjadi tamparan buat pengelola daerah dalam hal ini pemkot dan pemkab  Bekasi. Perkembangan pembangunan kota dan kabupaten Bekasi memang luar biasa beberapa tahun terakhir ini. Namun disayangkan perkembangan cepat dan pesat tak mampu diantisipasi pemkot dan pemkab Bekasi.

Saya bisa membandingkan demikian karena sejak saya masuk menjadi warga Bekasi dan memiliki KTP, tidak seperti kebanyakan tinggal ti Bekasi berKTP DKI, memalukan. Tahun 2002 saya resmi menjadi penduduk bagian utara kabupaten Bekasi, tepatnya di kelurahan kebalen kecamatan babelan. Secara defacto tempat tinggal saya lebih dekat dengan kota Bekasi namun secara dejure KTP saya adalah ada di kabupaten Bekasi.

2002, saya sudah merasakan kepadatan daerah ini, perubahannya sangat dinamis sekali,  pembangunan perumahan kelas bawah saat itu cukup massif, menjelang akhir dan setelah dan fasilitas pusat perbelanjaan dan tempat hiburan 2005 hingga kini perkembangan pesat perumahan kelas bawah, menengah dan atas semakin pesat, di kota maupun kabupaten apa lagi setelah pengembang besar summarecon dan agung sedayu group mengembangkan sayapnya di kota Bekasi Bekasi secara perlahan tapi pasti semakin menunjukan kelasnya. Namun sayang beribu sayang pertumbuhan yang pesat tak mampu diimbangi pemerintah kota dan kabupaten dengan infra strukturnya, maka terjadilah sebagaimana yang kini ramai dibicarakan di media social. #Bekasi di bully.

Sebagai warga Bekasi saya menyadari, pertumbuhan penduduk akhir beberapa tahun terakhir ini di Bekasi memang luar biasa, dan diimbangai dengan pertumbuhan perumahan kelas menengah ke atas dan apartment serta pusat perbelanjaan, hotel berkelas sedang tumbuh subur terutama di pusat kota bahkan kini mulai memasuki pinggiran kota Bekasi, dan hal ini tentu saja membawa resiko kepadatan. Tiap paginya jutaan kendaraan bermotor melintasi kota ini dari Jakarta ke cikarang kabupaten Bekasi atau sebaliknya. Sayapun tidak dapat membayangkan akan seperti apa jadinya jika Bekasi tidak memiliki penitipan roda dua yang jumlahnya ratusan.

Bekasi di bully, merupakan tamparan keras buat pemda kabupaten dan kota, kritik keras di social media hendaknya menjadi  pemicu pemda kota dan kabupaten untuk lebih jujur dan serius membangun Bekasi untuk menjadi lebih baik lagi. Memang seperti itulah adanya, selama ini saya terkesan pemda kota dan kabupaten masih berfikir tentang kekuasaan politik selanjutnya, sehingga pembangunan yang menjadi hak rakyat terabaikan, padahal kekuasaan politik mereka akan tetap bertahan jika pemda kota dan kabupaten mampu menunjukan kinerjanya pada fasilitas serta infrastruktur jalan dan moda transportasi kota dan kabupaten dibangun,  ditata dengan baik, dikelola dengan tegas dan di atur dengan jelas, tentu semua akan berbeda tampilannya dan kepercayaan masyarakatpun tak perlu dibeli untuk berkuasa.


Leave a comment

Jika Tidak Puas, maka Puas(a)lah

Jika Tidak Puas, maka Puas(a)lah

Merasa kekurangan atas apa yang telah diberikan-Nya. Merasa tidak coco katas apa yang telah di dapatkannya. Merasa bosan terhadap usahanya. Merasa tertindas atas kebijakan atasanya. Merasa…merasa dan terus merasa, rasa itu adalah rasa ketidak puasan, tidak puas karena tidak mampu menahan hawa diri. Tidak puas karena banyaknya keinginan diri yang tak lepas kendali.

Demikianlah diri manusia, ketika nafsu menyelimuti jasad, ketidak puasan atas apa yang telah di berikan-Nya akan lebih terlihat jelas dibanding nikmat-Nya yang begitu banyak namun tertutup rasa itu, manusia, oh manusia apa maumu? Begitu kira-kira Tanya Tuhan.

Tuhan berfikir dan didapatkanya solusi, puasa. Melalui utusan-Nyayang  tercinta Muhammad SAW, Dia firmankan agar manusia menjalankan puasa, agar manusia mampu mengendalikan ketidak puasannya menjadi selalu merasa puas. Karena rasa tidak puas itu merupakan sebuah penolakan diri. Menolak nikmat Allah yang kita akan kesulitan jika mau menghitung-hitungnya.

Allah perintahkan manusia puasa mampu mengambil  pelajaran mengapa harus menahan hawa dirinya, menahan berbagai macam ragam keinginan untuk memuaskan diri yang tidak akan pernah puas tanpa kesadaran akan nikmat-Nya. Jika kehadiran puasa dapat disadarinya, dilaksanakan dengan pengetahuannya, ketidak puasan dengan berpuasa akan menjadi kepuasan. Karena penolakan (tidak) tersebut dikikis habis dengan kesadaran berpuasa.

Dengan berpuasa mudah-mudahan kita menjadi manusia yang selalu merasa puas, menerima terhadap apa yang telah di berikan-Nya. Amiin.


Leave a comment

Palajaran Penting Dari Fenomena Mudik bagi Setiap Muslim

Palajaran Penting Dari Fenomena Mudik bagi Setiap Muslim

Masih berbicara mengenai mudik, namun saya mencoba melihatnya dari sisi spiritual, ruhani, agama, berikut sajiannya, selamat menikmati semoga menjadi renungan.

Mudik, boleh dikata singkatan dari Mule ke Udik. Mule itu pulang dan udik itu kampung. Jadi mudik bisa saya definisikan sebagai pulang ke kampung halaman, tempat kelahiran, tempat asal. Mudik telah menjadi tradisi bagi rakyat Indonesia sejak puluhan atau mungkin ratusan bahkan ribuan tahun. Mungkin, karena tidak ada catatan resmi mengenai hal ini.

Bagi setiap muslim (orang yang menjadikan ajaran Islam sebagai landasan perbuatannya) peristiwa mudik dapat memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan. Pelajaran apa itu?

Mudik, atau kembali kekampung halaman bisa kita analogikan dengan kembalinya manusia pada sang pencipta, Allah SWT. Mengapa orang tersebut mudik, pertama karena dikampung halamannya ada orang-orang yang dicintainya, sehingga saat dia berada tahunan  diperantauan ada keinginan untuk kembali kekampung halaman, kerinduan menyeruak ingin bertemu dan berbagi dengan orang-orang yang dicintainya.

Hidup ini bisa kita umpamakan sebagai tempat perantauan, orang yang dalam perantauan kemudian merasakan gairah pada kampung halaman karena ada orang yang dicintainya, maka perjalanan pulang kekampung halamannya jelas membahagiakan, untuk bertemu dengan orang yang dicintainya. Andai kita ini yang sedang dalam perantauan (menjalani proses kehidupan) memiliki kerinduan yang sama seperti orang yang ingin kembali kekampung halaman bertemu dengan sosok yang dicintainya, yaitu Allah SWT, sungguh luar biasa tentunya.

Pertanyaannya, adakah kesadaran kita bahwa kembali kekampung halaman yang sebenarnya itu kita yakini? Lalu adakah rasa kangen, rindu, cinta terhadap pemilik kampung halaman yang sebenarnya, Allah SWT? Sungguh menjadi suatu kebahagiaan jika kita kembali kepadanya karena kita cinta dan rindu pada-Nya, Subhanallah, Maha Suci Allah. wal hamdulillaah. Namun jika sebaliknya, tentu menjadi sebuah kerugian yang nyata bagi kita, naudzu billaahi min dzalik.

 


6 Comments

Guru dan Kesuksesan Siswa

Guru dan Kesuksesan Siswa

Salah satu hal utama yang akan dapat membanggakan atau membesarkan hati seorang guru yaitu saat menyaksikan muridnya mengalamai kesuksesan hidup. Sukses tak sekedar sisi materi namun dirinya bisa bermanfaat untuk kehidupan orang lain. Tentu saja yang membuat seorang guru tak merasa bangga yaitu saat muridnya gagal. Gagal dalam arti sisi hidupnya kelam, yang dilakukannya merugikan orang banyak, seperti korupsi misalnya dan masuk dalam tahanan KPK.

Siswa sukses, tidak sepenuhnya karena guru, demikian halnya jika ia mengalami kegagalan hidup. Karena dalam kehidupan seorang siswa ia punya keluarga, lingkungan, pertemanan, bacaan, tontonan dan contoh hidup lainnya. Namun contoh hidup, model atau inspirasi dari seorang guru bisa mendorong seorang siswa untuk apa-apa  yang diimpikannya.

Tak sedikit guru yang mampu menginspirasi kesuksesan jalan hidup siswanya. Meski seorang guru tidak mendapatkan apa-apa dari muridnya tersebut, namun ketika suatu saat ia melihat muridnya menjadi orang sukses yang benar jalan hidup dan peraihan kesuksesannya, cukuplah itu menjadi kebahagiaan tersendiri yang sulit digambarkan dan digantikan oleh apapun.

Semoga kita bisa menjadi bagian dari jalan sukses yang benar bagi siswa-siswa kita. salam


Leave a comment

Antara Memberi dan Menerima; Kisah Cerdik Nashruddin Hoja

Antara Memberi dan Menerima

Ini sebuah penggalan kisah tentang Nashruddin Hoja, seorang sufi yang cerdik sekaligus humoris namun memiliki nilai moral dalam kisahnya. Sebuah kisah menarik pada sebuah penggalan kisah perjalanan hidupnya, bagaimana ia mampu menolong seorang kaya yang pelit yang sedang membutuhkan pertolongan saat hampir hanyut terbawa arus sungai.

Kisahnya kurang lebih seperti ini, di kampung halamannya terdapatlah seorang pengusaha yang kaya raya, namun terkenal amat sulit memberi kepada para tetangganya yang miskin dan membutuhkan pertolongan. Pada suatu saat sang pengusaha kaya itu sedang berjalan disebuah tepi sungai yang airnya mengalir cukup deras, ia berjalan sambil menggenggam pecahan uang koin.  Ia nampak fokus pada genggamannya.

Ia menapaki jalan dipinggir sungai sangat berhati-hati sekali, karena saat itu hujan baru saja reda dan jalannya menjadi cukup licin. Kekhawatirannya terpeleset jatuh ternyata menjadi kenyataan, tiba-tiba..sleseeet, gubrak!…oh..uang koinku…Pengusaha kaya itu terpeleset jatuh dan genggaman uang koinnya terlepas menggelinding dan terdampar di bibir sungai. Koinku-koinku, oh…oh..nah itu dia.

Si Pengusaha tersebut berusaha keras mengambi koin itu, meski bibir sungai itu licin, ah…ah…terdengar suaranya yang berusaha menggapai koin yang nyangkut di rerumputan. Ah…kena…oh koinku…tapi tiba-tiba…byurrrrr, sang pengusaha itu terjatuh, nyemplung dipingir sungai, tangannya berusaha menggapai rumput yang menempel padanya koin kesayangannya.

Tolong…tolong…tolong…teriaknya. Orang yang meyaksikan penderitaan si pengusaha kaya berusaha menolong, dengan menjulurkan tangannya dibantu oleh beberapa orang lainnya. Berikan tanganmu, berikan tanganmu…ayo!!, tapi si pengusaha itu malah tidak mempedulikannya, dia hanya terus berteriak minta tolong. Mereka yang hendak menolong lelaki itupun bingung, mau ditolong kok tidak mau, kenapa? tapi ia terus berteriak minta tolong, mereka semakin bingung.

Tiba..tiba ada suara menyapa…ada apa? apa yang terjadi? suara teguran itu nampaknya sudah sangat di kenal sekali, alhamdulillah, Nashruddin, bantu kami menolong tetangga kita ini. Nashruddinpun melihat siapa orang yang membuthkan pertolongan itu, oh…dia…baiklah, nampaknya Nashruddin hafal betul dengan lelaki itu. Iapun segera meminta mereka meminta mereka memegang tangan Nasruddin, ayo, Terima tangan saya, ambil tangan saya.

Sahabat, apa yang terjadi ternyata si pengusaha itu dengan cepat meraih tangan Nashruddin Hoja, beberapa orang menjadi bingung, kok bisa ya? mengapa ia mau meraih tangan Naashruddin Hoja? Ayo kira-kira kenapa?


Leave a comment

Dimulai dari Membaca; Mengenal Buku (bagian kedua)

Dimulai dari Membaca; Mengenal Buku (bagian kedua)

Malam ini (kamis 26/05/11) kami melanjutkan kegiatan minggu lalu, membaca.  Sebagaimana minggu yang lalu, malam ini saya juga meminta mereka menghamparkan buku-buku dilantai setelah itu mereka memilih salah satu buku untuk mereka baca. Alhamdulillah, nampaknya mereka cukup antusias untuk membaca, tetapi jika melihat survey kecil-kecilan diantara empat belas orang yang menyempatkan membaca dalam sehari hanya dua orang, dua belas orang lainnya tidak. Dan buku-buku yang sering mereka baca adalah buku-buku pelajaran sekolah. Saya mencoba menganalisa, secara umum mereka memang tidak terbiasa apalagi menyempatkan diri untuk membaca. Hal ini mungkin berkait erat dengan kondisi lingkungan, bahkan juga sekolah yang kurang memotivasi mereka untuk membaca, selain buku pelajaran, plus factor kondisi ekonomi karena mereka datang dari golongan ekonomi kelas bawah.

Setelah mereka membaca mereka diinstruksikan menulis tentang fisik sebuah buku seperti covernya, judul bukunya, siapa pengarangnya, penerbitnya, ada apa saja di dalamnya seperti pengantar penerbit, daftar isi jumlah halaman.  Setelah membaca aku meminta mereka menuliskan tokoh-tokoh yang ada dalam buku jika itu jenis bukunya cerpen atau novel, dan yang terakhir mereka diminta menceritakan kembali apa yang mereka telah baca, ini bertujuan mengikat apa yang telah mereka baca tujuannya agar mereka mau dan berani berbicara/berpendapat.

Membimbing mereka bukan perkara mudah, apalagi jika melihat kondisi yang ada, tapi jika diperhatikan secara jujur, sebenarnya mereka punya semangat untuk membaca, inilah yang menjadi point penting,  setelah melihat situasi yang ada lalu saya berfikir, bagaimana cara menumbuhkan kegemaran dan kebiasaan membaca? Dari sini  yang harus membuat strategi, strategy pertama saya berbicara keuntungan, ya apa “keuntungan” besar yang akan mereka dapatkan jika rajin membaca? Jadi ketika mereka tahu untuk apa membaca. Motivasi pertama.

Selain membaca mereka harus mau menulis dan menceritakan kembali, inilah yang saya sampaikan pada minggu lalu pada status FB saya “Membaca secara verbal adalah mengucapkan kata-kata, tetapi jika hanya mengucapkan kata tanpa mengikatnya menjadi percuma. Agar tidak percuma ikatlah dia dengan pemahaman, akan lebih bermakna lagi jika kita mengikatnya dengan perbuatan, sebab, itu akan menjadi pengalaman dan pengalaman merupakan guru terbaik kehidupan.” (gun). membaca saja tidak cukup harus diikat dengan pemahaman dalam bentuk menceritakan atau menulis  cerita singkatnya/summary dari buku itu. langkah-langkah inilah yang akan dilanjutkan pada episode-episode berikutnya, motivasi ke dua.

Mungkin ada yang bertanya, apakah saya sedang mengarahkan mereka menjadi penulis? Bisa ya, bisa juga tidak. Mereka punya potensi dan kecenderungan berdasarkan minat, kebutuhan dan keahlian, karena mereka adalah pribadi yang berbeda. Kalau mereka bisa menulis, minimal mereka bisa merecord pengalaman-pengalaman mereka.

Langkah/strategynya yang ketiga agar mereka terbiasa menulis adalah menganjurkan mereka mempunyai buku catatan harian/diary, mereka diminta untuk mencatat berbagai pengalaman suka, senang, sedih, gembira, apa yang dilihat jika menarik dan lain-lain. Karena mencatat pengalaman hidup adalah  bagian dari membaca, membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Semoga usaha ini kelak akan membuahkan hasil, kita tunggu, untuk Indonesia lebih baik. Amin.

 

 


Leave a comment

Dimulai dari Membaca (bagian pertama)

Dimulai dari Membaca (bagian pertama)

Dimulai dari membaca, judul tulisan bersambung ini terinspirasi oleh pesan Allah SWT saat pertama menyampaikan berita gembira kepada utusan-Nya tercinta Muhammad SAW.

1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (terj. QS. Surah al-Alaq (96) ayat 1 s/d 5)

Dan dari pesan agung itu pula saya mencoba menularkannya kepada murid-murid di pengajian anak-anak Nurul Islam, di Ciledug Kota Tangerang. Beberapa bulan sebelumnya saya memang sempat menuliskan via face book akan rencana kegiatan ini, Alhamdulillah ada yang terketuk dan mau peduli dengan mendonasikan uang zakatnya dan shadaqohnya yang kemudian saya salurkan dengan membelikan puluhan judul buku dengan beragam jenis saat Islamic book fair 2011 lalu.

Puluhan judul buku dengan beragam jenisnya ada yang akademik/pengetahuan umum, novel remaja islami, cerita Nabi, pengetahuan agama, alquran, seri tokoh sejarah, motivasi, pecakapan bahasa inggris untuk anak dan lainnya. Apakah cukup? Jika berbicara cukup, tentulah sangat subjectif, kata cukup itu mewakili rasa, ketika kami mau memanfaatkan semaksimal mungkin apa ada, insya Allah rasa itu akan terpenuhi.

Nampak wajah-wajah gembira saat saya meminta mereka mengeluarkan buku-buku itu, dan meminta mereka menjejerkannya di lantai semen. Mereka tampak antusias melakukannya, awalnya saya hanya meminta tiga orang dari mereka, tetapi nampaknya yang lain juga ingin ikutan, tanpa dikomando mereka langsung membantu menata buku-buku tersebut berdasarkan bentuk besar, kecil, tebal, tipisnya buku itu. Terlihat juga diantara mereka yang sudah “ngetek” buku untuk dibacanya.

Menyaksikan hal itu, terbesit rasa syukur kepada-Nya dan ungkapan terimakasih teruntuk mereka yang telah peduli, insya Allah apa yang telah diberikan akan kami jaga dan kembangkan dengan menularkannya kepada yang lain karena ini adalah amanah. Insya Allah dengan rasa optimis semoga kegiatan ini membawa perubahan pola pikir dari yang selama ini nampak begitu menyedihkan. Maka untuk usaha merubahnya, meminjam istilah aa gym, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri (lingkungan), mulai dari sekarang, untuk masa yang akan datang  lebih baik. Wallaahu’alam